Saat ayam belum berkokok dan sebagian orang masih tidur pulas, bus StarMart menurunkan saya dan rombongan tepat di Times Square, Kuala Lumpur pukul 3 subuh waktu setempat. Jam 22.00 kami berangkat dari Singapore, satu…dua…tiga…empat…lima… ternyata cuma 5 jam saja perjalanan darat dari Singapore ke Kuala Lumpur. Saya segera menurunkan semua barang bawaan dan berjalan di sekeliling Times Square untuk mencari info penginapan terdekat. Saya melihat sesama penumpang bus yang terlihat menunggu angkutan umum, dan saya mencoba bertanya kepada mereka perihal info hotel ataupun losmen terdekat .Tapi sayangnya tidak ada seorang pun yang memberikan jawaban. Entah karena merasa takut ditanya-tanya oleh orang asing sepagi ini, atau memang mereka tidak tahu jalan, atau mereka pada dasarnya pelit membagi informasi…
Tiba-tiba sebuah taxi menghampiri kami dan menawarkan jasa mengantar ke hotel terdekat. Lagi-lagi info di internet membuat saya parno berlebihan. Hasil searching Google banyak yang menceritakan bahwa taxi di Kuala Lumpur rawan kejahatan terutama malam hari, mereka tidak segan-segan menipu dengan cara menaikkan tariff setelah penumpang turun di tujuan, atau bahkan ada yang sampai merampok di tengah jalan. Hii…. Dan kenyataan yang saya alami, taxi yang kami naiki aman saja kok, tidak sejahat yang dibayangkan. Supir taxi berkebangsaan India mengantar kami ke hotel yang terletak persis di belakang Times Square, Jalan Pudu ( hanya berjarak 5 menit dari pemberhentian bus). Setelah kami membayar ongkos taxi sebesar 5 RM, saya segera memasuki hotel maupun guesthouse satu-persatu yang ada di sepanjang jalan tersebut untuk menanyakan kamar kosong beserta harganya. Akhirnya pilihan jatuh kepada harga termurah di Hotel Orkid (www.hotelorkid-kualalumpur.com). Hotel ini memasang tarif termurah diantara lainnya saat itu, hanya 100 RM untuk tipe superior room, dan 130 RM untuk tipe family room. Badan yang capek akibat bermain di Universal Studio dan semalaman di bus segera saya rebahkan di kasur springbed yang nyaman ini…
Matahari sudah beranjak naik saat saya dan rombongan bersiap-siap berangkat menuju bandara. Dari kota Kuala Lumpur memakan waktu 1 jam menuju bandara LCCT atau lebih dikenal Low Cost Carrier Terminal. Karena keterbatasan info tentang bus, kami terpaksa menyewa taxi untuk menuju bandara. Ada cerita unik tentang supir taxi yang saya tumpangi. Ternyata pak driver adalah orang Indonesia ASLI! Bangga sekaligus bertanya-tanya kenapa bapak ini bisa merantau sampai sini. Dengan bahasa Indonesia yang jelas meski sesekali terdengar aksen Melayu-nya yang kental, si bapak bercerita bak dongeng tentang awal mula kenapa dia merantau sampai negeri Malaysia, mulai dari cerita menjadi supir pribadi orang kaya di Arab Saudi, kemudian tiba di Kuala Lumpur, sampai terkena dampak krisis moneter dan akhirnya banting profesi menjadi supir taxi dan menetap di Kuala Lumpur. Bukan hanya bapak ini yang bernasib seperti ini, banyak penduduk Indonesia yang merasa ‘kurang’ cukup dengan kesejahteraan yang diberikan oleh negeri tercinta sehingga memutuskan merantau dan bahkan menetap di negeri Jiran ini. Kisah suka dan duka yang diceritakan olehnya selama perjalanan berakhir setelah kami sampai di bandara LCCT.
Bandara LCCT ini bandara khusus yang diberikan oleh pemerintah Malaysia untuk parkir khusus pesawat-pesawat milik Tony Fernandes. Siapa Tony Fernandes? Dia adalah CEO Air Asia sekaligus pendiri pesawat ber tagline “Now Everyone Can Fly”, AirAsia. Memang tidak hanya AirAsia saja yang markir di terminal ini, masih ada low cost carrier lain seperti JetStar, tapi keberadaan pesawat Air Asia mendominasi seluruh parkiran terminal LCCT. Kesan pertama melihat bangunan sementara LCCT Cuma bisa berdecak kagum dengan fasilitas yang ada. Mulai dari gerai STARBUCK, Mc D, Dunkin Donuts dan gerai-gerai lain mejeng di terminal ini. Padahal terminal ini tidak dibangun khusus dengan bentuk mewah, tetapi lebih seperti bentuk gedung cargo barang. Tapi jangan salah…di dalam gedung suasananya terlihat lebih mewah dengan fasilitas komputer yang mumpuni, AC yang tidak tanggung-tanggung sejuknya, toilet yang bersih disertai shower, dan Free Duty Shop. Tidur di bandara pun terasa nyaman dan tidak diusir oleh security (akan saya ceritakan di artikel edisi Thailand). Inti dari tulisan saya, terminal LCCT ini lebih layak daripada terminal 1 atau 2 bandara Soekarno Hatta di Jakarta #JLEEPP. Rumput tetangga memang lebih hijau yah… :-)
to be continued…
kalo menurut saya LCCT ini mirip adisucipto, kalo sama terminal 3soetta lebih bagus terminal 3 soetta, apalagi kalo naik lantai 2 di bagian kedatangan LCCT, kotor, usang. toilet di LCCT juga panas, begitupun dengan musholanya, pengap dan banyak orang yang tidur lesehan di musholla.
Kebetulan saya belum pernah melihat langsung terminal 3 SoekarnoHatta jadi tidak bisa membandingkan :). Dan banyak orang bercerita juga bahwa terminal 3 lebih keren dari pendahulunya hehe…
Terima kasih atas pendapatnya :)
LCCT aza bagus apalagi KLIA heheh.. salam kenal
Salam kenal juga :-)