Setahun yang lalu saya ngeces saat melihat liputan Kawah Ijen di sebuah acara jalan-jalan televisi swasta yang memperlihatkan keindahan alam di komplek gunung berapi yang terletak di Jawa Timur itu. Acara jalan-jalan tentu hanya menampilkan kesenangan saat berwisata dan men-syut gambar-gambar yang bikin ngiler. Keindahan alam Gunung Ijen yang betul-betul indah membuat saya berulang kali merencanakan perjalanan kesana meski gagal terus, sampai akhirnya saya dan beberapa teman berangkat minggu lalu.
Setelah tayangan “wisata” itu keluar, sebuah televisi swasta lain kembali menayangkan liputan tentang Kawah Ijen, tapi acara yang bertajuk “INDONESIAKU” tersebut meliput Kawah Ijen dari sudut pandang yang berbeda, bukan untuk tujuan wisata tetapi sudut pandang dari perjuangan para penambang belerang. Saat menyaksikan acara tersebut tidak sadar tetesan air mata membasahi pipi.
Mengambil gambar mulai dari perjalanan para penambang dini hari berjalan di tengah dinginnya pegunungan, hanya berbekal botol minuman yang tergeletak di alat angkut belerang yang dipikul dan headlamp yang sudah terikat di kepalanya. Jalanan yang tidak rata dan berpasir halus membuat mereka tidak mungkin memakai alat angkut seperti gerobak, tetapi memakai alat angkut keranjang yang dipikul di bahu penambang. Alat angkut belerang yang terbuat dari anyaman bambu sederhana ( berbentuk seperti tempat sampah yang biasa dipakai oleh rumah tangga ) tersebut terdiri dari dua keranjang, satu di kanan dan satu di kiri yang disatukan dengan tongkat bambu yang terikat di tepi masing masing keranjang.
Liputan “INDONESIAKU” juga sempat memperlihatkan hasil periksa foto rontgen tulang dan paru-paru para penambang. Hasilnya terlihat bahwa tulang bahu mereka sudah bergeser, begitu juga paru-paru mereka yang bisa dikatakan sudah rusak berat karena terkontaminasi oleh belerang yang mereka hirup tiap harinya. Adakah asuransi yang menjamin kesehatan mereka? Jawabannya hanya terdapat pemeriksaan paru-paru secara berkala yang ditanggung oleh perusahaan. Jadi saat mereka mengalami komplikasi di paru-paru sampai mengakibatkan kematian, berarti itu bukan tanggung jawab perusahaan lagi…
kemiringan 45 derajat menuruni kawah
Menyaksikan sendiri perjuangan mereka memberi kesan tersendiri daripada hanya menonton di layar televisi. Di cerita sebelumnya berjudul Menaklukkan Gunung IJEN, saya dan dua orang teman sempat berjalan bersama dengan salah satu penambang dan sempat mengobrol singkat. Saya sangat tersentuh saat mendengar suara bapak penambang yang tidak terdengar nada mengeluh sama sekali karena beratnya medan yang dia tempuh setiap hari, jadi merasa malu sendiri saat ingat saya sempat menggumamkan; “Masih jauh kah?”, “Kok belum sampai?” selama trekking naik Gunung Ijen.
penambang belerang
Setibanya di puncak kawah, si bapak sempat menawari kami untuk ikut turun ke tepi kawah dipandu jalan olehnya, tetapi kami menolak dengan alasan menunggu teman yang lainnya. Jalanan turun ke kawah sangat curam. Sebagai ganti penolakan, kami membeli kerajinan tangan yang ditawarkan juga oleh si bapak, hiasan berbentuk kura-kura terbuat dari belerang yang sudah dilebur seharga 5.000 perbuah. Selain bentuk kura-kura, ada juga bentuk seekor ikan, kemudian bentuk trio bebek yang menyerupai Kwak Kwik Kwek – tokoh kartun Disney.
jalanan terjal yang HARUS dilalui penambang setiap hari!
Kawah Ijen sendiri sudah menjadi destinasi wisata favorit yang banyak diminati oleh wisatawan asing maupun lokal, sehingga beberapa penambang mencari penghasilan tambahan dengan menjual souvenir yang terbuat dari belerang ataupun dengan cara meminta bayaran jika wisatawan memerlukan jasa antar menuruni kawah. Berapa biaya yang dikeluarkan untuk jasa antar para penambang menuju sumber belerang tergantung negosiasi dengan penambang itu sendiri.
tetap tersenyum meski beban yang harus dipanggul seberat 7kg
Saat berjalan menuruni gunung, saya kembali bertemu dengan penambang lain. Dari ngobrol singkat dengan bapak tersebut, saya mendapat sepenggal cerita tentang perjalanan belerang dingin yang mereka angkut dari sumber belerang menuju pabrik pengolahan. Setelah diambil dari kawah, potongan-potongan belerang dibawa turun gunung, kemudian para penambang singgah sejenak di pondok Bunder untuk menimbang potongan-potongan belerang yang mereka bawa. Apabila jumlah yang mereka bawa belum sesuai dengan target mereka, mereka harus naik ke puncak lagi dan turun ke tepi kawah mengambil potongan belerang untuk menutup kekurangannya.
Setelah berat yang diangkut sudah sesuai, mereka turun sejauh 3 km ke Paltidung dan menimbang lagi si belerang. Mandor cocok dengan timbangannya, barulah mereka dibayar. Berapa sih berat yang menjadi target mereka? 75 kilogram-90 kilogram! Jika kurang dari itu, mereka tidak dapat upah yang diharapkan dan harus naik ke puncak lagi. Mereka menerima upah sebesar 50.000-75.000 rupiah perhari. Tapi apakah dengan upah sebesar itu bisa membuat hidup mereka lebih dari cukup? Aroma belerang yang kuat mereka hirup setiap hari, apakah cukup untuk membayar biaya obat yang dikeluarkan saat mereka mengalami gangguan pernafasan?
tetap melangkah maju
Alam membuat hidup mereka tergantung padanya. Terdengar pesimis bila memikirkan bagaimana cara membuat mereka lebih sejahtera. Mereka jelas tidak mungkin banting profesi sebagai petani yang mungkin dirasa menghasilkan uang lebih sedikit daripada profesi sebagai penambang.
Kisah pilu ini hanyalah sedikit gambaran nasib rakyat kecil di Indonesia yang terus menggantungkan hidupnya kepada alam…
melintasi keindahan alam Gunung Ijen
Huhuhu pengen mewek bacanya :'(
hiks..sama…. *kasih sapu tangan…
dan sekarang anda sukses membuat saya ngeces karena pengen ke kawah Ijen, hihihi :p
Prihatin juga ya lihat perjuangan mereka. Kayaknya upah yang dibayar ga sesuai ama resiko yang ditanggung :(
Kawah ijen menurutku lebih bagus dari Bromo kalo dari segi “kawah” nya aja. Must see, Deb :)
Yup..yup.upah yang mereka terima masih minim banget mengingat perjuangan mereka yang ngoyo banget en taruhan nyawa.
ternyata aq melewatkan kisah ini……btw ketemu NicSap lagi gak……
Belum ketemu lagi….tapi tetep ngarep ;)
Keep read in my new blog address … Coz share is care
Hai Halim!
Setelah gua baca tulisan lu, gua jadi kepikiran. Penambang sulfur ini memang berat sekali hidupnya tapi kayaknya masih banyak sisi dari cerita ini yang belum kita mengerti. Seperti, kenapa perusahaannya ga kasih asuransi? Kenapa pemerintah melegalkan bisnis ini (kan bukan usaha yang rahasia dan perusahaannya pun udah PT)? Kasus Pak Budi yang ngajak ngobrol kita (*malu), dia udah tua, masih idup, merokok, anaknya bisa sekolah. Itu penghidupan yang bisa dikatakan lebih baik dari orang miskin di jakarta. Lu penasaran ga sih, cerita lengkapnya sebenarnya gimana? :P *nyampah banget ya?
Hai Halim lagi deh! Hai!
Mumun….. Tak terasa udah lewat seminggu lebih petualangan ini berlangsung. Miss you, Mun… #eaa
Penasaran banget sih, Mun….andai saja aku tinggal lebih lama di Kawah Ijen, mungkin aku bisa cerita panjang tentang “apa” dan “kenapa” nya hihihi…
Kalo ada tawaran nge-trip ke tempat yang “gak biasa” bisa info aku loh :-p
Salam Jermal :-)
Salam kenal Bro..jadi gak nahan pingin komen baca kisah di atas, aku juga nonton pas ada liputannya di tipi, lupa tipi apa…miris…:( :(
eh ijin share di FB-ku yak ?
Silakan, semoga artikel ini bisa membantu orang ikut ngerti juga bahwa para penambang bukan objek wisata :-(
blom kesampaian ke Ijen, ah jadi pengen segera meluncur dan menyusuri kisahnya
Kawah Ijen punya alam yang indah, namun kesejahteraan penduduknya jauh dari perhatian pemerintah setempat.
Must see… :-)
terharu melihat perjuangan mereka :(
Berharap semoga pemerintah setempat bisa memberikan kesejahteraan yang layak bagi mereka…
di facebook Interesting Engineering ada video tentang penambang belerang i kawah ijen dengan judul “The most Dangerous Job in the World”..banyak komen orang luar yang sedih melihatnya terutama karena ga dilengkapi masker..semoga presiden kita yang akan datang benar-benar bisa memperhatikan dan mensejahterakan masyarakat,.dan khususnya para penambang di kawah ijen ini mendapat perlindungan..amiin..
Kalau mendengar fakta seperti ini, sering muncul pikiran2 negatif…… serasa ada 2 tanduk muncul di kepala…. Jadi kepikiran bahwa Boss yang punya perusahaan ini pasti super kaya raya….. Punya rumah-rumah segede istana di Surabaya, Jakarta, Singapura, dan seantero dunia. Pergi melancong dan shopping ke berbagai negara…..Suatu pemandangan yang semakin sering kita lihat sehari-hari.
Kasihan ternyata para penambang disana, duh ngebayangin jauhnya jalan yang mereka tempuh itu bikin nangis. Bolak balik cuma buat ngambi upah segitu, mungkin upahya tak sesuai tapi apa mau dikata. Tak ada penghasilan yang lebih layak selain itu. Semoga pemerintah setempat lebih memberikan fasilitas untuk mereka agar lebih gampang dalam bekerja bolak balik untuk mengambil belerang…
Sungguh miris, rasanya aku pengen banget ngeliat bagaimana kejadian disana sebenarnya. Semoga suatu saat bisa berkunjung kesana. Amin.
Iya kemarin baru dari Ijen karena sebelumnya nonton peneliti aktivitas kawah ijen wanita Ibu Sri Sumarti di acara Kick Andy. Bisa gak ya ke depannya dibuatkan gondola khusus untuk mengangkut sulfur. Enatah untuk mempertahankan nilai tradisional atau pertimbangan lain, semoga pemerintah setempat ke depannya lebih peduli, mungkin bisa mengakomodasi alat safety buat penambang belerrang di Ijen. Main ke blog aku ya https://ketikakubicara.wordpress.com/
Terima kasih sudah berkunjung di blog ini.
Pengenalan alat pengangkut yang lebih maju, mungkin membutuhkan banyak waktu untuk beradaptasi. Apalagi dengan adanya peraturan perusahaan yang menampung belerang dengan angka minimal sekali setor. Jika jumlah yang mereka bawa kurang dari itu, mereka harus turun ke kawah untuk mengambil lagi.
Tak jarang mereka yang “sadar wisatawan” sudah mulai menawarkan cetakan belerang yang dibentuk tokoh kartun untuk menambah penghasilan mereka. Mudah-mudahan hal semacam ini bisa diberdayakan ke istri-istri para penambang :-)
Life is struggle :(